TUNDA ATAU LANJUT
Pernahkah kalian menunda suatu pekerjaan? Mungkin menunda tugas yang diberikan dari guru, dosen, atau mungkin juga bos bagi yang sudah bekerja. Sebagian besar orang pasti pernah yang namanya menunda sebuah pekerjaan, termasuk aku hehe. Kalo pas dapet tugas dari seseorang dan dia memberitahu tenggat waktunya (batas waktunya) masih lama, pasti pikiran pertama yang muncul oleh ku adalah “wah masih lama nih, nanti deh, bisa santai-santai dulu, hehehe.”
Nah, kita sering banget denger para
motivator mengatakan “jangan suka menunda-nunda sebuah pekerjaan!” dan ya.. Aku
setuju banget sama statement
tersebut. Akan tetapi, tahukah kamu, kebanyakan dari kita itu mengerti dan
paham apa yang benar tetapi tidak melakukannya. Benar tidak ? coba renungkan
dan tanyakan kepada diri kita masing-masing, apakah kita memahami betul
statement motivator tersebut ? Namun, kapan kita pernah melakukannya secara
rutin? Mungkin dari antara kita menjawab bahwa masih bisa dihitung jari untuk
melakukan tugas dengan ontime bahkan lebih awal.
Aku pernah memiliki pengalaman saat
aku menunda sebuah pekerjaan, disitu aku tidak bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
Mengapa demikian? Iya dong, aku mengerjakannya dengan sangat cepat sehingga aku
mengerjakannya dalam keadaaan panik. Karena aku panik, otomatis otak akan
tertekan dan sulit untuk diajak berpikir secara luas, dan alhasil pekerjaanku
tidaklah maksimal. Padahal, kalo aku memiliki
banyak waktu untuk mengerjakan tugas tersebut, aku akan memiliki kesempatan
untuk mencari referensi sebanyak mungkin dan tidak akan merasa buru-buru untuk
segera menyelesaikannya. Oleh karena tidak ada tekanan untuk segera
dikumpulkan, aku bisa mengerjakan dengan relax dan hal ini akan membantu ku
untuk menyerap pengetahuan baru lebih mudah.
Mungkin ada beberapa teman yang mengatakan
“justru kalo kepepet, otak kita langsung manjur kerjanya, cepet”. Ini seperti
pernyataan bahwa Anda akan berusaha lebih keras ketika Anda sedang merasakan
tekanan yang hebat, atau bisa disebut The
Power of Kepepet. Iya memang betul, aku pun pernah melakukan metode ini,
bahkan sering wkwkwkwk. Namun, metode
ini kuranglah efisien karena lebih menekankan pada “belajar dan kerjakan ketika
ada tugas atau ujian saja” dan akhirnya muncul lah statement “ingat materi dan
lupakan kembali”. Bener nggak sih? Kalo kita belajar hanya saat-saat ujian atau
ada tugas saja, mungkin keesokan harinya kita masih ingat, tetapi beberapa
minggu bahkan beberapa hari kemudian saja sudah lupa. Lalu, untuk apa kalo
begitu? Kita hanya akan menjadi seorang sarjana atau pelajar (karena aku
seorang mahasiswi) yang lulus dengan kertas ijazah tanpa memiliki pengetahuan
yang dalam. Beberapa orang memang ada yang berhasil dengan metode seperti ini,
tetapi sebagian besar juga tidak begitu berhasil atau bahkan gagal sama sekali.
Aku
sering mendengar, ada orang yang bilang bahwa belajar teori ujung-ujungnya
tidaklah terpakai ketika kita berada di dunia kerja nanti. Ya, bisa dikatakan
ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya. Tahukah kamu, ketika kita belajar teori
dari dosen, akan melatih kita bagaimana berpikir dengan kritis, melatih kita
bagaimana berani bertanya, berdiskusi dengan orang lain, dan masih banyak lagi,
secara khusus juga melatih kita untuk manage
our time to the right things. Jadi ketika kita memiliki kebiasaan manage
waktu yang buruk karena suka menunda pekerjaan, tentu kita sedang
menyia-nyiakan kesempatan kita untuk melatih karakter kita. Padahal, kebiasaan
ini akan mempengaruhi kita ketika kita berada di dunia kerja. Mungkin bagi
orang ada yang bilang, kita bisa belajar hal-hal tersebut ketika kita
berkecimpung dalam dunia organisasi. Memang benar, kampus pun juga menyarankan
dan memfasilitasi kita untuk bisa mengembangkan diri kita di sebuah organisasi
sesuai minat kita. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tugas utama dan
tanggungjawab kita sebagai seorang pelajar dan mahasiswa adalah belajar. Jadi,
jangan sampai tugas utama kita tersalip hanya karena kita memprioritaskan hal
yang lain. Apalagi kita juga bisa mendapatkan banyak manfaat dari kita belajar,
masa kita sia-siakan begitu saja? Fokuslah pada perkara-perkara yang kecil
terlebih dahulu, bertanggungjawablah pada hal yang sederhana seperti belajar
terlebih dahulu, maka Tuhan akan memampukan kita dan menyediakan kita untuk
belajar bertanggungjawab pada perkara yang lebih besar.
So, what should we do? Aku
punya beberapa solusi yang bisa ku bagikan disini dan aku juga sedang berjuang dengan
kedisiplinan ini, jadi aku juga masih belajar ya, guys. Mari kita berjuang bersama-sama.
Menurutku,
kita perlu cari akarnya terlebih dahulu mengapa kita suka sekali atau sering
menunda-nunda. Biasanya orang suka menunda karena cenderung berpikiran bahwa
kita masih memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan ataupun
tugas. Padahal, tugas itu membuat kita banyak berpikir, dan berpikir itu
memerlukan waktu. Jika kita menunda-nundanya, kita tidak memiliki waktu untuk
berpikir, tamatlah.
Kemudian,
ingatlah bahwa kita bisa berkuliah, bekerja, mendapatkan kesempatan untuk
menerima tugas tersebut adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Tidak semua orang
mendapatkan kesempatan yang sama seperti kita, so, kita perlu bersyukur untuk itu. Nah, bentuk rasa syukur kita
tidaklah hanya bilang “Terimakasih Tuhan,” saja bukan? Maka yang perlu kita
lakukan adalah ambil bagian untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya,
dengan cara tidak menunda-nundanya. Ketika kita mau mengambil bagian untuk
bersyukur kepadaNya, apalagi kita meminta kepadaNya supaya diberikan kemampuan
untuk menjalaninya, tidak mungkin Dia diam begitu saja, Dia pasti menolong
kita. Bisa saja dengan mengingatkan kita ada tugas yang harus dikerjakan
sekarang. Aku pernah mengalami hal ini,
ketika sedang tidak melakukan apapun, tiba-tiba teringat ada tugas yang harus
dikerjakan terlebih dahulu, dan aku yakin itu pasti Tuhan yang mengingatkan. Apalagi
ketika kita berkuliah untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, Dia pasti tidak
segan-segan menolong kita.
Lalu,
berdasarkan pengalamanku, ketika kita mendapatkan sebuah tugas yang banyak,
biasanya akan timbul rasa beban, malas, dan akhirnya menundanya. Kita bisa
mengatasi hal tersebut dengan cara memecah tugas itu menjadi tugas-tugas yang
lebih kecil dan spesifik. Aku teringat, ketika aku mendapatkan tugas dari
seorang dosen, beliau menyuruhku untuk membuat essay terkait buku filsafat yang
sangat tebal, kurang lebih 700 halaman. Awalnya aku malas sekali, melihat
ketebalannya saja sudah capek. Namun, aku mencoba ambil bagian dengan cara
memberi label setiap bab nya untuk memetak-metakan agar menjadi bagian yang
lebih kecil. Puji Tuhan, cara ini sangat efektif karena mengubah cara berpikir
otakku yang tadinya terbeban karena bacaannya yang sampai 700 halaman menjadi
masing-masing 50-100 halaman per babnya. Kita bisa menjadi tidak cepat bosan,
lebih dalam membaca buku karena berfokus pada bab-babnya.
Agar
semakin efektif, buatlah target atau semacam jadwal waktu pengerjaan tugas agar
bisa menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Misal
ketika kita sedang mengerjakan sebuah tugas mereview sebuah buku, kita bisa buat jadwal hari Senin membaca buku
bab 1, hari Rabu membaca bab berikutnya, dan seterusnya. Ingat, hal ini perlu
dilakukan dengan disiplin. Menurutku, ketika temen-temen terbiasa dengan
istilah power of kepepet, kita bisa
manfaatkan hal itu dengan jadwal yang kita buat sendiri. Misal, “pokoknya bab
pertama buku A harus selesai hari Rabu,” maka otak kita akan tersistem kepepet
karena ada sedikit tekanan untuk bisa segera membacanya, menurutku beban
kepepetnya tidak seberat ketika sedang kepepet deadline dari atasan maupun
guru atau dosen. Karena itu target dari diri kita sendiri. (Nah, perlu diingat,
ketika kita sedang membuat jadwal atau sebuah target, kita perlu membuatnya
secara realistis, sesuai dengan kondisi kita masing-masing. Ketika kita membuat
sebuah target ternyata diluar kapasitas kita, itu tindakan menyiksa diri. Nanti
balik lagi deh, jadi beban. Eh nunda lagi, hmmm).
Oiya, kita juga bisa membuat seperti ceklist hari ini apa yang mau dilakukan
agar menggugah motivasi, apalagi ketika ceklist itu hampir terpenuhi akan
membuat diri kita sendiri bangga.
Berikutnya,
menurutku hindari sifat perfeksionist ya, karena sikap kita yang sangatlah
perfek akan membuat kita semakin terbeban dan tertekan, hingga ujung-ujungnya
tidak melakukan atau menghasilkan apapun, dan akhirnya menundanya. Bagi ku,
akan ada baiknya jika mengerahkan apa yang kita bisa lakukan secara maksimal.
Kita hanya bisa ambil bagian yang bisa kita lakukan, lalu apapun hasilnya nanti
kita serahkan kepada mereka yang bertanggungjawab (dosen, guru, bos, atasan,
Tuhan, dan lain-lain). Kita akan jauh lebih bahagia ketika kita berfokus pada
usaha kita, bukan dengan hasilnya, hasil itu hanyalah bonus sebab ada hal-hal
yang berada dibawah kendali kita dan diluar kendali kita. Statement itu aku dapatkan dibuku filsafat dengan judul Filosofi
Teras karya Henry Manampiring. Maka penting juga untuk memiliki pola pikir yang
dewasa dalam membantu kita untuk menghindari penundaan pekerjaan.
Kemudian,
kita juga bisa membuat skala prioritas. Seperti yang ku katakan tadi, tugas dan
tanggungjawab kita sebagai pelajar misalnya adalah belajar, mengerjakan tugas.
Maka prioritas utama kita yaitu mengerjakan tugas terlebih dahulu. Ketika ada
tugas-tugas lain yang menumpuk seperti tugas organisasi dan lain sebagainya,
kita sudah memiliki pegangan skala prioritasnya dan segera mengambil tindakan
dengan bijak. Penting juga untuk bisa mengkategorikan kejadian-kejadian dari
yang urgent dan penting sampai pada
kegiatan tidak urgent dan tidak
penting.
Lalu,
solusi terakhir dari ku adalah jangan lupa untuk memberikan self reward. Ini penting sekali karena
kita sudah melakukan bagian kita sebaik-baiknya, ketika target atau tugas kita
terselesaikan dengan baik, kita layak untuk mendapatkan penghargaan, seperti
mendapat jajan coklat, berwisata, healing,
dan lain-lain. Ini juga bisa membangun sebuah motivasi ketika kita mau
melakukan atau mengerjakan tugas yang ada.
Nah,
itu yang bisa ku bagiin, guys. Dalam
memperjuangkan hal kedisiplinan untuk tidak menunda-nunda pekerjaan memanglah
tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa bukan? Mari kita sama-sama belajar
komitmen, paling tidak kita jalani selama tiga bulan sampai satu semester,
pasti kita akan merasakan dampak positifnya seperti nilai kita bisa menjadi
maksimal dan bahkan bisa menjadi sebuah karakter baru bagi kita. Ingat, memang dampak
besarnya belum begitu terasa bagi kita untuk saat ini (inilah yang terkadang
menjadi sebuah alasan bagi mereka, sehingga tidak mau berjuang dan bertahan),
tetapi percayalah kita pasti akan mendapatkan manfaatnya apalagi nanti ketika
kita sedang bekerja. Ini juga melatih kita untuk bersabar.
Aku
pernah mendapatkan kata-kata ini : Anak muda itu mudah sekali terbentuk
karakternya, maka berjuanglah untuk membentuk karakter dari sekarang. Jika
karakter yang kita siram adalah yang buruk, percayalah maka dewasa nanti akan
kesulitan sendiri, yang dikit-dikit marahlah, emosianlah, panikanlah, menunda
lah, dan lain-lain. Orang seperti ini nantinya tidak akan banyak disukai orang
dan tidak dihargai. Apabila kita membentuk karakter kita pada hal yang baik dan
tepat, percayalah masa tua kita akan lebih nyaman. Maka dari itu, penting juga
memiliki lingkungan yang mendukung kita hidup dalam kedisiplinan, salah satunya
tidak kompromi terhadap penundaan tugas.
Komentar
Posting Komentar