PERJUANGAN KU BELUM SELESAI
Aku seorang pelajar SMA kelas akhir yang sangat terkenal dengan ambisi nya. Setiap hari, ketika pelajaran, tak pernah aku “skip” atau bolos sekolah, bahkan ketika ada kesempatan untuk ‘minggat’ pun aku tak mau. Meskipun guru nya tidak sedang mengajar atau sedang ada keperluan lain, aku tidak mengambil kesempatan itu untuk kabur. Sekalipun biasanya para siswa bisa bebas melakukan apapun, sampai minggat sekalipun, tetapi tetap tidak ku lakukan. Ku lakukan itu karena aku adalah pribadi yang sudah terbiasa taat kepada setiap aturan. Ketika ada tugas dari guru ku, aku selalu mengerjakan dengan tepat waktu sehingga aku tidak pernah alpha terhadap tugas. Bahkan guru-guru mengenalku karena aku rajin dan lebih disiplin daripada teman-teman kelas ku yang lain. Ya bisa dibilang seperti anak kesayangan guru, hahaha..
Aku, pribadi yang disiplin, yang tidak main-main
terhadap studi ini ternyata memiliki problem, ketika ada orang yang mengatakan
aku sok rajin atau “ambis bangett” aku selalu sakit hati. Karena cara mereka
berbicara kepada ku itu tidak sopan, kesannya seperti mengejek. Apalagi ketika
aku diajak untuk bekerja sama didalam ulangan dan aku mengatakan “tidak”, wah
jangan ditanya, aku langsung dihujat satu kelas. Aku dikatakan sok pintar, sok
bisa, dan sok-sok lainnya. Tentu saja hal ini membuatku sangat tidak nyaman. Aku
dibully teman-temanku hingga disaat aku mau mengerjakan tugas di kelas, kulakukan
dengan cara diam-diam.
Aku juga tidak memiliki teman yang benar-benar ‘teman’.
Mereka, teman kelas ku, hanya mau berteman dengan ku jika aku mau memberi hasil
tugas ku kepada mereka atau mau membagikan jawaban ulangan ku kepada mereka,
dan tentu nya jika aku mau mengikuti gaya hidup mereka yang suka skip sekolah. Bahkan ada yang pernah
berkata kepada ku, “percuma pintar, percuma ambis, tapi gak punya teman.” Ya,
memang benar, percuma kita pintar tetapi tidak memiliki relasi. Namun, apakah tepat
dengan cara seperti itu supaya aku bisa diterima di lingkungan mereka ? Hal ini
membuat ku frustasi. Bahkan karena kefrustasian ku ini, pernah membuat prestasi
ku menurun. Aku pernah menjadi setengah hati ketika melakukan tugas dari
guru-guru ku, tetapi tetap ku upayakan untuk mengumpulkan tugas nya dengan tepat
waktu. Belum lagi jam sekolah ku yang sangat lama (dari jam 06.45 – 16.00),
benar-benar menguras tenaga ku. Setiap pulang sekolah aku selalu lemas dan
sudah mengantuk, sehingga ketika aku sampai di rumah, aku hanya ‘numpang’ makan
dan tidur saja.
Pada suatu hari, aku sempat pulang sekolah sangat
sore, bahkan bisa dikatakan hampir malam, yaitu jam 18.30. Karena hari itu aku
ada ekstrakurikuler. Sesampainya dirumah, aku hanya mandi, makan malam, dan
lanjut untuk belajar karena besok aku akan menghadapi ulangan harian matematika.
Aku belajar hingga larut pagi, jam 02.30 subuh. Badan ku terasa lelah sekali. Seharusnya
aku istirahat terlebih dahulu sebelum belajar, karena otak sudah tidak support aku
untuk belajar. Jadi aku hanya bisa berdoa saja, yang penting aku sudah
mengambil bagian ku untuk belajar.
Keesokan hari nya, aku berangkat sekolah. Sesampainya
di kelas, aku melihat teman-teman kelas ku sibuk mencoret-coret kertas, ada
yang sedang menulis rumus dikertas kecil, ada yang sedang buka buku karena
mengaku diri nya belum belajar sama sekali, dan lain-lain. Lalu bel sekolah
berbunyi, tandanya masuk kelas dan juga tanda bahwa ulangan harian sebentar
lagi akan dimulai. Sambil menunggu guru matematika ku masuk kelas, aku melihat
kembali catatan-catatan matematika ku unuk mengingat rumus-rumus yang sudah
kupelajari semalaman. Teman-teman kelas ku berisik sekali, mereka berkompromi
untuk bekerja sama.
Ketika guru matematika ku masuk, kami mulai berdoa
untuk memulai pelajaran dan setelah itu kami mulai mengerjakan ulangannya. “Ya,
silakan anak-anak keluarkan kertas folio satu lembar dan alat tulis saja.
Selain itu, dilarang ada barang lain diatas meja”. Serempak sekelas menjawab,
“baik bu.” Soal pun dibagikan. Kami segera mengerjakan soal-soal yang ada.
Beberapa menit kemudian, aku melihat teman-teman ku mulai tengak-tengok ke
kanan ke kiri. Ada yang dorong-dorong kursi teman depannya, ada yang melempar
kertas, pinjam penghapus untuk memberikan contekan, dan tindakan-tindakan lainnya.
Aneh nya, guru ku tidak menyadari pergerakan teman-teman ku. Mery, yang duduk dibelakang
ku persis, mendorong kursi ku untuk menanyakan jawaban ku. Namun, tak ku tanggapi.
Merry pun emosi dan mendorong kursi ku dengan keras hingga menimbulkan bunyi
yang keras. Seketika itu juga seisi kelas ku menatapku dan tentu guru ku segera
mendatangi ku. Aku menjelaskan apa yang terjadi, lalu guru ku menegur si Merry.
Merry memang terkenal anak nakal dan semau nya sendiri. Dari kejadian itu, guru
ku memperingati seluruh teman-teman ku untuk tidak mencontek ataupun membuat
gaduh. “Lalu untuk Merry,” kata guru ku, “kalo kamu mengulangi perbuatan itu
lagi, saya tidak akan segan-segan mengeluarkan mu dari kelas selama ulangan.”
Merry yang tidak merasa bersalah itu terlihat kesal lalu menatap ku dengan sinis.
Satu jam telah berlalu, ulangan kami sudah selesai. Aku
merasa lega karena aku cukup bisa mengerjakan soal-soal nya dan aku akan
mengetahui hasil nya minggu depan. Bel istirahat pun berbunyi. Teman-teman
kelasku bergegas keluar untuk membeli makanan di kantin. Aku juga membeli mie
ayam kesukaan ku. Saat mengantre, aku mendengar ada orang yang menyebut-nyebut
nama ku, seperti nya mereka sedang membicarakan ku. Mereka mengata-ngatai ku dengan
kata-kata kotor, bahkan berkata bahwa aku sok pintar, pantas tidak memiliki
teman karena terlalu kaku terhadap aturan, tidak bisa diajak bekerja sama,
tidak bisa berbaur. Aku cukup terkejut mereka membicarakan ku dengan kata-kata
seperti itu, apa salah ku? segera aku bergegas menghampiri mereka. “Maksud
kalian apa ya?” kata ku. lalu mereka terkejut dan mereka langsung pergi begitu
saja. Ternyata mereka adalah teman sekelas ku dan salah satu nya Merry. Aku
benar-benar bingung, mengapa mereka sebegitunya membenci ku, mengapa
teman-teman tidak menyukai ku hanya karena aku tidak bisa diajak bekerja sama dengan
memberikan contekan?. Namun aku mencoba untuk tenang, berusaha untuk sabar
sekalipun itu benar-benar membuatku sakit hati, marah, dan sedih.
Seminggu telah berlalu dan hasil ulangan harian
matematika ku pun dibagikan, jantungku berdegub kencang, nama kami dipanggil
satu persatu, teman-temanku banyak yang mendapatkan skor bagus; 90, 95, 88, 89.
Lalu giliran nama ku yang dipanggil, nilai ku dikatakan cukup baik karena sudah
melampaui KKM, aku mendapat nilai 85. Tetapi, sayangnya aku kurang bersyukur
kepada Tuhan karena aku membanding-bandingkan nilai ku dengan mereka yang lebih
baik dari ku. Sekalipun aku tahu bahwa hasil mereka adalah hasil dari
mencontek. Bahkan parahnya lagi, aku kecewa dengan Tuhan karena nilai ku hanya
85, sehingga aku menduduki peringkat kedua dari terakhir setelah nilai Merry
yang skor nilai nya 82. Aku menyalah-nyalahkan Tuhan, aku yang sudah berjuang
sekeras yang ku bisa, sudah belajar sampai subuh, sampai capek sendiri karena
aku juga mengikuti ekskul tetapi tidak mendapatkan hasil lebih baik dari mereka
. Aku membanding-bandingkan ku dengan temanku yang lain, “kenapa dunia tidak
adil, mereka dengan seenaknya mencontek tanpa merasakan lelahnya belajar tetapi
bisa mendapat hasil nilai yang bagus, bahkan dikatakan hampir sempurna. Mereka
dengan seenaknya mendapatkan hasil yang instan begitu.” Belum lagi karena aku
memegang prinsip untuk tidak mau untuk mencontek, sehingga teman-teman ku tidak
mau berteman dengan ku dan menjauhi ku. Pernah terlintas di dalam pikiran ku
untuk bergabung dengan mereka saja, seperti nya menyenangkan dan nyaman karena
aku pasti akan mendapatkan teman banyak dan juga bisa mendapatkan nilai bagus
tanpa repot-repot belajar.
Sepulang dari sekolah dan sampai dirumah, aku
memberitahu hasil ulangan ku kepada orangtua ku, mereka mengapresiasi ku karena
aku mendapatkan nilai yang cukup baik. Namun, raut wajahku tidak ceria. Ayahku
ku yang menyadari hal itu langsung bertanya kepada ku, “ada apa? Apa ada
kejadian yang membuat mu tidak nyaman disekolah?” Lalu aku mengungkapkan
perasaan ku dan kejadian-kejadian saat aku ulangan kemarin kepada kedua
orangtua ku, aku menangis. Ibu ku yang tadi nya sedang sibuk membersihkan meja
makan untuk menyiapkan makan malam kami segera bergegas memeluk ku dan menenangkan
ku. Ayahku memberi respond hanya dengan anggukan kepala. Aku yang melihat respond
ayah ku itu membuatku sangat marah. “Ayah ini bagaimana sih! Seolah-olah ayah
setuju dengan apa yang mereka lakukan, mereka itu dengan seenaknya mencontek
dan mendapatkan nilai bagus, Yah. Sedangkan aku yang sudah berjuang keras
sampai belajar subuh, bahkan dibully dan dijauhi teman-teman tidak mendapatkan
hasil yang sepadan !” teriak ku. “Apa aku harus sama seperti mereka supaya aku
mendapatkan nilai bagus, apa aku harus sama seperti mereka supaya aku juga
mendapatkan teman?” lanjut ku sambil terisak. Ayahku dengan tenang memberi penjelasan,
“Ayah mengerti dan paham sekali terhadap apa yang kamu rasakan, karena ayah pun
dulu pernah mengalami yang kamu alami. Tetapi apakah kamu tahu mengapa Tuhan
mengizinkan kamu mendapatkan peristiwa itu? bukankah kamu sudah tahu bahwa
nilai dan teman itu bisa didapatkan dengan cara yang lain dan tidak seperti
itu? Percayalah kepada ayah, suatu saat nanti, semua hal yang kamu tanyakan,
hal yang belum kamu ketahu saat ini akan dijawab Dia tepat pada waktu-Nya. Dan
hal itu nantinya akan membuat mu semakin bersyukur. Kamu harus benar-benar memegang prinsip mu, itu
lah yang berkenan bagi-Nya, yakinlah Dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan
mempermalukan anak-anakNya. Dan satu hal lagi, nilai ulangan atau nilai rapor
itu tidak menentukan nasib masa depan kita, yang menentukan adalah Tuhan
sendiri, yang terpenting kita sudah berjuang dan berusaha sebisa kita. Sama
seperti mu, kamu sudah mengambil bagian mu untuk belajar. Sisanya minta kepada
Tuhan, serahkan kepada Dia. Itu sudah cukup. Mungkin teman-teman mu sekarang
mendapatkan nilai bagus karena mencontek, tetapi mereka tidak mendapatkan
karakter pejuang seperti mu yang sudah berjuang belajar. Mereka telah melewatkan
kesempatan itu.“ setelah penjelasan dari ayahku itu, aku mulai terdiam dan
merenungkannya, mungkin benar bahwa Tuhan belum beri tahu aku sekarang, pasti
ada hal yang mau Tuhan ajarkan kepada ku, tinggal apakah aku mau bersabar atau
tidak. Aku mengangguk mengerti dan
memeluk ayahku, lalu kami bersama-sama berdoa dan hati ku merasa tenang dan
damai.
Aku bersyukur memiliki mereka, mereka bukanlah tipikal
pribadi yang apa-apa nya segera melapor kepada guru atau kepala sekolah, mereka
tidak agresif untuk merespond kejadian buruk ku di sekolah, tetapi mereka
mengajarkan ku untuk melihat dari perspektif lain, hal apa yang dapat ku
pelajari dari kejadian itu. Karena segala sesuatu tidak terjadi secara
kebetulan. Mereka lah yang membuatku selama ini masih kuat berjuang di sekolah,
aku hanya butuh mereka untuk mendengarkan ku, menasihati ku, dan menyemangati
ku. Aku juga tidak mau merepotkan kedua orang tua ku untuk memindahkan ku ke
sekolah lain karena pasti biaya nya sangat mahal. Apalagi sudah sangat tanggung,
karena aku sudah duduk di kelas dua belas. Aku juga bersyukur memiliki keluarga
yang menyupport ku sekalipun aku jarang sekali ‘hadir’ yang benar-benar hadir
di rumah karena kesibukan ku di sekolah.
Beberapa bulan setelah aku berjuang keras untuk melalui
segala ujian kelulusan ku di SMA, aku bersyukur aku bisa mendapat ijazah SMA
dan nilai nya pun memuaskan. Aku telah lulus, aku senang sekali karena aku akan
masuk ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah, aku akan menjadi mahasiswa.
Dan hal yang paling ku syukuri adalah aku tidak akan lagi mengalami
kejadian-kejadian yang memilukan di SMA. Kedua orangtua ku senang dan bersyukur
karena guru-guru ku mengatakan bahwa aku murid teladan di sekolahnya, murid
yang tertib, dan taat terhadap aturan.
Sebulan berlalu, setelah aku merayakan kelulusan ku,
aku mulai mendaftar ke universitas yang ku impikan. Aku mulai menghadapi
berbagai macam tes, dari tes logika, tes pengetahuan akademik, tes kesehatan,
sampai tes wawancara untuk menyeleksi ku masuk di universitas impianku. Semua
ku lalui dengan penuh perjuangan, aku belajar berminggu-minggu dari pagi sampai
larut malam. Bahkan orangtua ku mendukungku dengan memfasilitasi ku untuk les
privat. Hingga saat waktu nya pengumuman, aku begitu yakin diterima karena aku
sudah banyak berjuang dan pada saat ujian pun aku merasa bisa mengerjakannya
dengan sangat baik. Link pengumuman dibagikan dari pihak panitia dan aku segera
membuka link itu bersama orang tua ku. Aku mengisi id dan password ujian ku.
Ketika aku klik tombol ‘oke’, tiba-tiba muncul background warna merah dengan
tulisan yang memberi keterangan bahwa aku belum bisa diterima di kampus yang
aku impikan. Kami semua benar-benar terkejut, aku diam sejenak dan seketika air
mata ku mulai menetes ke pipi ku. Ya, aku menangis. Orangtua ku segera memeluk
ku, berusaha menghiburku. “Menangis lah jika kamu ingin menangis, kami ada
disini untuk mu.” itu kata-kata ayahku ketika aku masih menahan tangisan ku.
Dan duarr, aku menangis keras,
tersendu-sendu. Ibu ku berkata, “tidak apa-apa, menangis lah sampai kamu merasa
lega.”
Satu jam telah berlalu dengan diisi tangisan ku, tanpa
ada satu kata pun ku lontarkan kepada orangtua ku, yang ku lakukan hanyalah
menangis sambil meringkih memeluk orangtua ku. Ibuku yang sambil memeluk ku
memejamkan mata seperti mendoakan ku, berharap keajaiban muncul saat itu juga.
Disitu aku merasakan bahwa betapa berharga nya keluarga ku yang mau tetap setia
ada untukku, terlebih ayahku yang tentu sudah bersusah payah bekerja supaya aku
bisa terfasilitasi belajar untuk ujian ku. Namun, dia tidak protes dan tidak
marah. Sungguh beruntung aku memiliki teladan yang nyata seperti ayahku.
Lalu ayahku berkata kepada ku, “apa yang kamu
rasakan?”, aku menjawab “tentu aku marah, Ayah. Aku sedih, aku bingung apa yang
harus ku lakukan setelah ini. Sedangkan pendaftaran universitas lain sudah
ditutup. Padahal aku sudah berusaha, sudah belajar semaksimal yang ku bisa,
tetapi mengapa aku tidak diterima?” Ayahku berkata, “baiklah, tidak apa-apa
marah, tidak apa-apa sedih. Istirahatlah malam ini, masuklah ke dalam kamar dan
berdoa kepada Tuhan, ceritakan semua kekesalan mu dan amarah mu kepada-Nya,
tidak mengapa, Dia adalah Pribadi yang maha pendengar sehingga Dia sanggup
mendengar seluruh keluhan mu, tidak seperti kami yang adalah manusia terbatas.
Minta ampunlah juga kepada Dia karena kamu sempat kecewa, marah, dan sedih. Dia
tidak ingin melihat mu berlama-lama untuk bersedih. Bertanyalah kepada-Nya, apa
yang Dia inginkan didalam hidupmu sehingga kamu diizinkan sampai pada titik
ini. Ayah dan ibu tidak menuntut mu harus berkuliah atau bagaimana, yang ayah
dan ibu harapkan adalah kamu memahami apa yang ingin Tuhan lakukan didalam
hidupmu.” Setelah mendengar hal itu, aku langsung menuju ke kamar ku dan
melakukan apa yang ayah ku katakan meskipun aku sempat merasa putus harapan.
Beberapa hari kemudian, aku mulai membereskan isi
kamar ku. Aku ingin membuang semua buku-buku ujian ku. Saat aku mengambil
buku-buku SMA ku, aku melihat sebuah kertas ulangan matematika ku dulu, disitu
ada coretan tinta merah guru ku dengan bertuliskan angka 85. Aku jadi teringat
betapa aku berjuang sekali untuk ulangan matematika ini karena aku sudah sangat
lelah untuk belajar. Apalagi saat itu aku baru pulang dari ekstrakurikuler.
Tiba-tiba perasaan ku terarah pada peristiwa pengumuman hasil ujian universitas
ku. Ternyata kejadiannya hampir mirip dengan kejadian ku saat menerima kertas
hasil ulangan ini. Aku juga teringat kembali ketika aku mendapatkan ijazah SMA
ku yang terdapat tulisan “LULUS” disitu.
Dulu aku pernah kecewa karena mendapatkan hasil
ulangan yang tidak membanggakan, peristiwa ini sama seperti pada kejadian hasil
pengumuman penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi yang ku daftar.
Padahal aku sudah berjuang keras untuk belajar. Tetapi pada akhirnya, di SMA,
aku boleh lulus dan mendapatkan hasil ijazah yang baik. Disitu aku mulai yakin,
suatu saat nanti pasti akan ada waktu nya aku ‘lulus’ di perguruan tinggi yang
ku harapkan. Disitu aku terharu karena perkataan ayah ku benar, semua hal tidak
ada yang kebetulan, pasti ada maksud tertentu. Benar, bahwa Tuhan pasti akan
memberitahu maksud Dia sesuai pada waktu-Nya, dan aku mulai memahami nya dikit
demi sedikit. Dia memberi ku kesempatan untuk mengalami kekecewaaan saat aku
menerima kertas ulangan matematika supaya aku bisa dikuatkan pada saat
peristiwa pengumuman ku kemarin. Aku sadar ternyata perjuangan ku belum
selesai.
Dua bulan telah berlalu, tahun ini aku belum
berkuliah, tetapi aku mulai mencari informasi-informasi seputar beasiswa kuliah
baik didalam maupun diluar negeri. Aku juga mengisi kegiatan ku dengan banyak
membaca, menulis blog, mengerjakan soal-soal latihan untuk mempersiapkan ku
seleksi masuk ke perguruan tinggi di tahun depan. Aku banyak menulis
kisah-kisah inspiratif di blog ku. Banyak orang yang menyukai tulisan ku,
mereka memberi komentar bahwa cerita-cerita yang ku tulis membuat mereka
semakin bersemangat dalam menjalani hidup. Disitu aku bersyukur karena aku juga
bisa membagikan hal-hal positif kepada banyak orang.
Tiba-tiba saat aku sedang membuka sosial media, aku
melihat pesan masuk dari salah satu teman SMA ku. Karin, nama nya. Dia
menghubungi sosial media ku karena dia termotivasi setelah melihat cerita ku di
blog yang salah satu nya menceritakan pengalaman hidup ku dan kegiatan-kegiatan
ku selama aku mempersiapkan ujian di tahun depan. Dia memberi ku pesan bahwa
dia juga sama seperti ku yang sedang mempersiapkan ujian tahun depan. Kami
banyak mengobrol disitu hingga kami bertukar nomor ponsel.
Saat kami mulai membicarakan sekolah kami, Karin
berkata kepada ku bahwa teman kelas ku, Merry, sudah diterima di perguruan
tinggi swasta yang terkenal sangat mahal. Akan tetapi, sayangnya, dia tidak
menyelesaikan kuliah nya, ya, dia berhenti berkuliah pada semester kedua nya.
Karena dia merasa tertekan terhadap tugas-tugas yang ada, tidak betah dengan
sistem kuliahnya yang sangat ketat, dan hal yang lebih fatal lagi dia keluar
karena tidak cocok dengan jurusannya. Hal itu membuat ku terkejut, sungguh
sayang kuliahnya tidak dilanjutkan sedangkan disini aku benar-benar berjuang
untuk mendapatkan perguruan tinggi.
Namun, aku jadi lebih bersyukur ketika mengingat bahwa
tahun ini aku belum berkuliah. Bisa saja aku sama seperti Merry yang kurang
cocok dengan pilihan jurusan ku sehingga aku tidak dapat menyelesaikan
kuliahku. Lebih baik mundur satu tahun tetapi benar-benar bisa memikirkan
secara matang untuk masa depan. Di sisi lain aku juga bersyukur, ternyata
proses perjuangan ku di SMA dapat mempersiapkan ku di dunia kuliah nanti,
tugas-tugas akan menjadi hal biasa bagi ku karena di SMA aku selalu mengerjakan
tugas dengan sebaik-baiknya. Aku juga mau berjuang untuk berproses dan tidak
mau menerima hasil apapun secara instan.
Setahun telah berlalu. Selama itu, aku dan Karin
bersama-sama berjuang untuk ujian; kami belajar bersama dan bersenang-senang
bersama. Kami juga bersama-sama melalui ujian-ujian untuk masuk ke perguruan
tinggi yang kami inginkan. Aku juga mendaftar beberapa beasiswa. Sampai pada
akhirnya pengumuman ujian kami tiba. Kami bersama-sama membuka pengumuan itu,
disitu aku dan Karin sama-sama diterima di perguruan tinggi impian kami. Dan
aku juga mendapatkan e-mail bahwa aku mendapatkan beasiswa yang dapat membantu ku
dalam membiayai kuliah nanti. Kami benar-benar senang sampai orangtua kami pun
menangis terharu. Ayah ku berkata kepada ku, “Lihat, apa yang sudah Tuhan
lakukan didalam mu, percaya lah kepada-Nya, maka Dia akan membukakan pintu
bagi mu”
Setelah kejadian itu, aku semakin memahami apa maksud
Tuhan didalam hidupku. Ternyata Tuhan punya rencana yang lebih indah daripada
apa yang ku rencanakan. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi pribadi yang
seperti sekarang jika tidak melalui proses-proses sebelumnya. Aku yang bisa
memotivasi banyak orang, bahkan teman sekolah ku sendiri, hingga dia bisa menjadi
salah satu pribadi yang penting dalam hidupku, yang mau menjadi teman yang
benar-benar ‘teman’. Jika tahun lalu aku diterima di perguruan tinggi yang ku
inginkan, mungkin aku tidak mendapatkan kesempatan beasiswa ku sekarang ini. Hal
ini membuat ku benar-benar bersyukur. Dan satu hal yang ku pelajari dan akan
selalu ku pegang dalam hidupku bahwa setiap usaha pasti memiliki proses yang
tentu nya tidak cepat. Kadang kala kita harus dibongkar, dihancurkan terlebih
dahulu hingga dapat dibentuk menjadi bangunan yang lebih kokoh,indah, baru, dan
bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Aku jadi tidak sabar bagaimana kuliah ku nanti nya, pasti akan banyak tantangan
berdatangan kepada ku. Namun aku tidak akan takut, karena dulu aku sudah melalui banyak rintangan dan Tuhanlah yang menolong ku bahkan memberi ku hal-hal yang luar biasa, dan aku yakin pasti Ia akan melakukan hal yang sama untuk masa depan ku. Aku sudah diperlengkapi dan dipersiapkan oleh Dia
Keren banget Glorii, semoga bisa menjadi berkat🙏😁
BalasHapus