SURAT UNTUK AKU

SURAT AKU

Yang terkasih,

AKU.

Aku mulai mengenal mu ketika aku sudah bisa memulai mengingat segala sesuatu. Katanya sahabat itu adalah sosok yang selalu ada untuk kita dalam masa suka maupun duka, tetapi apakah itu melebihi diri mu? Kurasa tidak. Siapa, sih.. yang jauh lebih dekat dengan ku selain kamu? Kalo dipikir-pikir kita ini akrab banget yah!

Kalo kita flashback sama masa-masa dulu, aku benar-benar memperlakukan mu dengan sangat baik. Jika dipikir-pikir, tidak terhingga aku selalu menempatkan mu menjadi pilihan yang pertama dan yang terutama dari hal apapun. Benar, bukan?

Seiring waktu, kita makin bertambah usia, kita menjadi semakin dewasa, bertumbuh terus-menerus. Aku terus berusaha memastikan kamu dalam kondisi aman dan nyaman. Aku mendaftarkan dirimu untuk mengikuti organisasi terkenal disekolah kita pada waktu itu, ya supaya kamu akan dihargai, dipandang, dikenal sebagaimana aku memuji mu. Aku ingin kamu diperlakukan seperti aku memperlakukan mu.

Aku selalu memotivasi dirimu untuk terus berjuang keras belajar, berusaha, berjuang untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, yaitu bersekolah ditempat yang favorit, berkuliah ditempat yang standar nya tinggi. Supaya apa ? Supaya kamu dipandang keluarga mu, dihargai, dikagumi banyak orang. “Wah, kamu keren ya bisa masuk ke SMA A. Wah hebat ya kamu, bisa pasang target setinggi itu untuk berkuliah !” ya itu lah keinginan mu bukan? Maka sudah menjadi tugasku untuk memastikan dirimu melakukan segala-galanya demi mendapatkan harapan mu itu.

Ketika kamu sakit, aku selalu mengerang menangis, takut bahwa terjadi sesuatu kepada mu. Aku berpikir dan terus berpikir apa yang harus ku lakukan supaya kau tidak kesakitan. Aku menidurkan mu ditempat paling nyaman, terkadang memarahi orang karena berisik supaya kamu tidak terganggu, dan lain-lainnya. Betapa aku memperhatikan mu bukan?

Aku juga selalu memastikan mu bahwa kamu harus berpenampilan yang baik, sudah berpenampilan sempurna supaya kamu bisa tersorot dimata orang lain, mendapatkan perhatian orang lain, dipuji orang-orang. Melihatmu senang itulah kesenangan ku.

Di sosial media pun aku memastikan mu untuk terlihat baik-baik saja, pose/angle pada foto harus sempurna supaya orang-orang berpikir bahwa kamu ini adalah pribadi yang benar-benar sempurna, sukses, ceria.

 Memang lebih mudah membuat mu untuk tetap bahagia pada masa kecil kita yang lucu. Namun, semakin kita bertumbuh lebih dewasa, segala sesuatu semakin rumit. Aku harus lebih bisa semakin bersikap hati-hati. Kamu selalu ingin menjadi yang terutama, pemenang, dan yang terdepan. Namun, ada saat-saatnya kamu menjadi rendah hati dan tanpa prasangka. Semua semakin terlihat sulit. Dan tentunya aku semakin lelah, capek.

Contoh dalam hubungan asmara saja, aku sudah berjanji untuk menjaga pribadi untuk hidup dalam kekudusan, menjaga kemurnian hati, dan jiwa ku. Bahkan berjanji untuk menempatkan standar yang sesuai dari apa yang sudah kita ketahui didalam hal rohani kita. Tetapi kamu memaksa ku untuk bisa memperhatikan mu agar kamu menarik lawan jenis, menjadi gadis populer yang bisa mendapat semua laki-laki yang kau anggap sempurna. Sehingga aku dengan tanpa sadar, karena begitu dalamnya memperhatikan mu, menerima pria yang ternyata itu bukan standar tujuan awal hidup ku. Dan hal itu membuat ku menjadi bersungut-sungut menyesal. Aku tidak nyaman dengan semua itu.

AKU, telah ku ketahui betapa defensive sekali kau ini. Tetapi kau tidak memberikan alasan/penjelasan yang jelas kepada ku. Berlarut-larut dalam kesedihan, tidak jelas mengulur waktu yang padahal bisa digunakan untuk melakukan apapun, akhirnya waktu itu terbuang sia-sia. Hey, itu bukan waktu mu!
Memang aku senang membuat mu untuk bahagia, tetapi kau juga perlu tau apa yang arti nya time management. Sehingga kamu pun paham apa resiko-resiko nya jika kau menyuruhku untuk melakukan hal itu.

Terkadang aku melontarkan kata-kata keras, kasar, tidak sedap didengar supaya kau terlindungi. Ya, itu ku lakukan demi kamu.. Namun, kamu tidak memperingatkan ku kerusakan apa yang timbul akibat perlakuan ku itu. Kau tidak memberi tahu kepada ku bahwa kita tidak bisa menarik kata-kata kita lagi.

Aku mencintai mu,tetapi aku tidak bisa terus menerus hidup seperti ini. Kau selalu mengingatkan ku bahwa jika aku terus membahagiakan mu, aku pasti mendapatkan kebahagiaan juga. Akan tetapi tidak semudah dan sesederhana itu.

Hai, AKU. Aku selalu percaya bahwa kau dapat diandalkan, mengarahkanku ke jalan yang tepat sesuai harapan kita. Padahal kau sebenarnya tidak bisa. Tetapi kamu selalu meyakinkanku bahwa kamu ini benar, tahu arah jalan yang tepat. Tapi, ternya kita selalu sampai pada hujung jalan yang buntu. Telah ku cari-cari apakah ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk kembali. Dan ternyata jalur ini berbeda, jalur ini amat sempit dan sulit. Jalan itu tidak sering dilewatkan banyak orang. Bahkan banyak orang mengaku tidak ingin melaluinya. Padahal, jalan itu sudah cukup jelas membawa kita kepada hal yang benar, sejati, dan penuh kelimpahan.

Bagaimanapun, aku tidak bisa menempuh jalan itu jika aku terus bersama mu, AKU. Jadi, inilah akhir dari cerita kita. Dadah, AKU.

Salam tulus,

Saya.

06 Agustus 2021

Gloria Biwin Kinasih

Terinspirasi dari buku rohani The End of Me
Karangan Kyle Idleman. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer