Semua Terjadi Untuk Membentuk Kita

             Pernahkah Anda merasa capek, merasa lelah, merasa masalah-masalah yang menghampiri Anda tidak kunjung selesai atau tidak memiliki solusi ? Pernahkah Anda merasa emosi, merasa marah apabila ada bawahan Anda atau siapapun yang mengecewakan Anda? Seperti nya semua manusia di dunia ini mengalami hal demikian. Atau pernahkah kalian merasa kesal karena kalian diperintah-perintah melulu, disalah-salahkan, dan hal-hal yang mungkin ‘tidak menyenangkan’ lainnya ? Hal-hal tidak menyenangkan itu seakan-akan menyiksa kita, mengurung kita, membelenggu kita. Inti nya tidak membuat kita merasa nyaman.
Akan tetapi, tahu kah Anda mengapa hal itu sering terjadi ?

Saya pernah bertemu dengan seseorang dan beliau adalah salah satu pengusaha sukses di kota saya. Dia memiliki hotel, memiliki mobil, harta dan lain-lain. Beliau pernah share tentang hidupnya kepada saya, beliau tidak pernah menunda sebuah pekerjaan, selalu meneliti dan mengamati perusahaan nya supaya tidak ada yang terlewat, inti nya beliau ini benar-benar disiplin. Namun dibalik itu semua, sejak dari kecil, beliau selalu dididik dengan cara keras. Jika beliau tidak taat, tidak melakukan tanggung jawab nya, pasti beliau akan mendapat hukuman yang tentu nya tidak menyenangkan. Namun, karena didikan orang tua nya dahulu, karakter beliau menjadi seperti yang saya lihat sekarang dan sangat berpengaruh pada perusahaannya. Begitu berarti didikan orang tua kita, sekalipun hal itu tidak menyenangkan pada awal nya. Kita diperintah-perintah melulu, atau mungkin ada yang dari kita pernah disalah-salahkan oleh kedua orang tua kita atau orang lain.

Dari hal ini, saya belajar bahwa peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan diizinkan Dia terjadi supaya kita dibentuk menjadi pribadi yang memiliki karakter, kita sedang dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang siap menghadapi banyak tantangan di masa datang. Karakter itu tidak bisa dibentuk secara instan, pasti butuh proses, kekonsistenan, komitmen, usaha, dan lain-lain. Justru karakter itu terbentuk karena kita banyak mengalami sesuatu sekalipun hal itu juga menyakitkan. Dan karena karakter yang sudah terbentuk itu, akhirnya menguntungkan kita suatu hari nanti.

Saya ingat, saya dulu sering sekali disuruh ibu saya untuk menyapu lantai rumah. Jujur, saya anggap hal ini tidak menyenangkan karena menguras tenaga saya, seharusnya saya bisa bersantai-santai, tetapi karena tidak ingin dimarahi akhirnya saya menyapu. Akan tetapi tidak dengan hati yang sungguh-sungguh (seharusnya tidak boleh demikian). Namun, saat saya menginjak usia 20 tahun, ketika saya nanti sudah tinggal sendiri di kos-kos an, saya bisa menyapu rumah saya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain apalagi pembantu untuk membersihkannya. Akhirnya uang kebersihannya dapat saya tabung untuk membeli sesuatu yang berguna bagi saya. Bisa kita simpulkan hal menyapu yang terlihat sepele itu sedang melatih karakter kita untuk mau bekerja, mandiri, dan bergerak terus. Banyak sekali keuntungannya, bukan? Pertama, karakter kita terbentuk, kedua, rumah kita bersih, ketiga, uang kebersihan bisa di tabung, lalu karena rumah kita bersih akhirnya kita terhindar dari banyak penyakit, hidup kita sehat, uang kesehatan bisa kita tabung, dan lain-lain.

Selain membentuk karakter kita, dari masalah-masalah itu juga akan memperlihatkan sifat asli kita, apakah kita masih mudah tersinggung, marah, malas, dan lain-lain hanya karena diperintah, dikata-katai yang tidak benar, menghadapi anak kecil yang susah diatur, dan lain-lain.

Saya memiliki adik laki-laki, dia sudah duduk di bangku kelas 3 SD, dia benar-benar menjengkelkan menurut saya, kenapa ? karena apa-apa dia tidak mau menuruti kata-kata saya, padahal apa yang ku katakan itu untuk kebaikannya. Seperti nya semua orang yang memiliki saudara kandung ataupun saudara kecil dan intensitas bertemunya banyak, pasti merasakan hal yang serupa dengan saya. Terkadang adik saya suka sekali mencari gara-gara. Entah PR nya tidak dikerjakan, memecahkan barang, dan lain-lain.

Disitu saya melihat betul karakter saya, saya sering membentaknya, memarahi nya, bahkan pernah sesekali memukul nya supaya dia tidak aneh-aneh lagi. Betapa kejamnya diri saya bukan? Setelah melewati banyak hal yang menolong saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, seperti pergi ke tempat ibadah, konseling dengan kawan seiman dan mentor, orang tua, akhirnya saya tersadar bahwa diri saya ini masih banyak PR yang harus diperbaiki. Saya si pemarah, si pembenci, si pengutuk, si cuek, dan lain-lain harus berproses dan berjuang supaya menjadi si penyabar, si pengasih, si figur yang baik. Benar-benar karakter saya dibuka semua nya.

Tanpa kita sadari perilaku kita itu merugikan diri kita dan tentu nya orang lain. Jika si pengusaha yang saya kenal itu pemarah, emosi, tidak mau bekerja keras, pasti usaha nya akan cepat bangkrut dan akan merugikan orang yang sudah bekerja disana sehingga para begawai nya merasakan keterpurukan karena sering dimarahi, tidak memiliki pekerjaan karena perusaaan nya bangkrut, dan kerugian lainnya. Saya, yang dahulu nya pemarah, tidak sabar, memukuli adik saya, itu dapat menimbulkan trauma bagi adik saya, adik saya tidak mau terbuka dengan saya. Padahal, ketika nanti dia dewasa, tentu saya adalah salah satu pribadi yang dia perlukan apabila terjadi sesuatu. Jika relasi dari sekarang saja sudah tidak dekat, bagaimana mau saling menolong disaat kami dewasa nanti? Tentu hal ini sangat merugikan.

Nah, seharusnya ketika kita sedang menghadapi tantangan, pergumulan, atau hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi, kita patut bersyukur, karena hal itu arti nya bahwa kita akan belajar sesuatu yang pasti akan bermanfaat bagi kita bahkan orang lain. Selain itu juga kita patut bersyukur karena ada masalah justru kekurangan kita tadi dapat kita ketahui dan dapat segera kita atasi supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi (Mungkin yang dulu pemarah menjadi lebih sabar, dan lain-lain). Bukan nya malah mengeluh atau lari dari masalah. Sebenarnya yang rugi diri kita sendiri apabila melakukan tindakan bodoh seperti itu. Orang-orang yang suka lari dari masalah seperti itu tanda nya tidak mau belajar dan tunduk.

Ketika saya tahu perihal ini, saya juga mulai belajar untuk berjuang. Ketika ada masalah dan tantangan, saya akan belajar untuk berpikir bahwa Tuhan sedang mau ajarkan saya sesuatu, sedang membentuk saya supaya suatu saat nanti saya akan menjadi lebih dewasa sekalipun saat ini saya belum tahu jelas sedang dibentuk dibagian apa, saya tidak akan pernah lari dari masalah dan berani untuk menghadapi nya bersama dengan Tuhan.

Tuhan akan selalu menguliti kita, membentuk kita supaya karakter kita semakin dewasa. Bahkan dengan menggunakan cara yang bagi kita mungkin menyedihkan. Bukan berarti Dia tidak sayang. Dia sayang kepada kita, sangat-sangat sayang. Namun, Dia ingin kita untuk terus bergantung kepada-Nya, Dia ingin tahu bahwa kita ini manusia yang terbatas sehingga jika mengandalkan kekuatan kita sendiri pasti akan sangat capek. Selain itu, Dia juga ingin kita menjadi seperti emas yang murni sehingga perlu diuji kemurniannya dengan api.

Jadi, apakah Anda masih mau memandang sebuah masalah, pergumulan, tantangan-tantangan itu sebuah hal yang negatif ? Saya harap tidak. Mari kita sama-sama berjuang dibagian ini. Untuk itu penting melakukan evaluasi diri setiap hari dan tentu tak lupa juga kita perlu berdoa, bergantung kepada Tuhan, bukan bergantung pada pikiran sendiri atau kemampuan kita sendiri. Percayalah, Anda bisa capek sendiri !

Mungkin selama ini Anda capek, kesal, galau dan lain-lain karena Anda bergantung pada pemikiran dan kemampuan diri sendiri.

Dan ingat! Semua hal tidak ada yang kebetulan, karena dari semua peristiwa yang terjadi itu dapat kita pelajari dan kita maknai.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer