PERJUANGAN KU BELUM SELESAI

Aku seorang pelajar SMA kelas akhir yang sangat terkenal dengan ambisi nya. Setiap hari, ketika pelajaran, tak pernah aku “skip” atau bolos sekolah, bahkan ketika ada kesempatan untuk ‘minggat’ pun aku tak mau. Meskipun guru nya tidak sedang mengajar atau sedang ada keperluan lain, aku tidak mengambil kesempatan itu untuk kabur. Sekalipun biasanya para siswa bisa bebas melakukan apapun, sampai minggat sekalipun, tetapi tetap tidak ku lakukan. Ku lakukan itu karena aku adalah pribadi yang sudah terbiasa taat kepada setiap aturan. Ketika ada tugas dari guru ku, aku selalu mengerjakan dengan tepat waktu sehingga aku tidak pernah alpha terhadap tugas. Bahkan guru-guru mengenalku karena aku rajin dan lebih disiplin daripada teman-teman kelas ku yang lain. Ya bisa dibilang seperti anak kesayangan guru, hahaha..

Aku, pribadi yang disiplin, yang tidak main-main terhadap studi ini ternyata memiliki problem, ketika ada orang yang mengatakan aku sok rajin atau “ambis bangett” aku selalu sakit hati. Karena cara mereka berbicara kepada ku itu tidak sopan, kesannya seperti mengejek. Apalagi ketika aku diajak untuk bekerja sama didalam ulangan dan aku mengatakan “tidak”, wah jangan ditanya, aku langsung dihujat satu kelas. Aku dikatakan sok pintar, sok bisa, dan sok-sok lainnya. Tentu saja hal ini membuatku sangat tidak nyaman. Aku dibully teman-temanku hingga disaat aku mau mengerjakan tugas di kelas, kulakukan dengan cara diam-diam.

Aku juga tidak memiliki teman yang benar-benar ‘teman’. Mereka, teman kelas ku, hanya mau berteman dengan ku jika aku mau memberi hasil tugas ku kepada mereka atau mau membagikan jawaban ulangan ku kepada mereka, dan tentu nya jika aku mau mengikuti gaya hidup mereka yang suka skip sekolah. Bahkan ada yang pernah berkata kepada ku, “percuma pintar, percuma ambis, tapi gak punya teman.” Ya, memang benar, percuma kita pintar tetapi tidak memiliki relasi. Namun, apakah tepat dengan cara seperti itu supaya aku bisa diterima di lingkungan mereka ? Hal ini membuat ku frustasi. Bahkan karena kefrustasian ku ini, pernah membuat prestasi ku menurun. Aku pernah menjadi setengah hati ketika melakukan tugas dari guru-guru ku, tetapi tetap ku upayakan untuk mengumpulkan tugas nya dengan tepat waktu. Belum lagi jam sekolah ku yang sangat lama (dari jam 06.45 – 16.00), benar-benar menguras tenaga ku. Setiap pulang sekolah aku selalu lemas dan sudah mengantuk, sehingga ketika aku sampai di rumah, aku hanya ‘numpang’ makan dan tidur saja.

Pada suatu hari, aku sempat pulang sekolah sangat sore, bahkan bisa dikatakan hampir malam, yaitu jam 18.30. Karena hari itu aku ada ekstrakurikuler. Sesampainya dirumah, aku hanya mandi, makan malam, dan lanjut untuk belajar karena besok aku akan menghadapi ulangan harian matematika. Aku belajar hingga larut pagi, jam 02.30 subuh. Badan ku terasa lelah sekali. Seharusnya aku istirahat terlebih dahulu sebelum belajar, karena otak sudah tidak support aku untuk belajar. Jadi aku hanya bisa berdoa saja, yang penting aku sudah mengambil bagian ku untuk belajar.

Keesokan hari nya, aku berangkat sekolah. Sesampainya di kelas, aku melihat teman-teman kelas ku sibuk mencoret-coret kertas, ada yang sedang menulis rumus dikertas kecil, ada yang sedang buka buku karena mengaku diri nya belum belajar sama sekali, dan lain-lain. Lalu bel sekolah berbunyi, tandanya masuk kelas dan juga tanda bahwa ulangan harian sebentar lagi akan dimulai. Sambil menunggu guru matematika ku masuk kelas, aku melihat kembali catatan-catatan matematika ku unuk mengingat rumus-rumus yang sudah kupelajari semalaman. Teman-teman kelas ku berisik sekali, mereka berkompromi untuk bekerja sama.

Ketika guru matematika ku masuk, kami mulai berdoa untuk memulai pelajaran dan setelah itu kami mulai mengerjakan ulangannya. “Ya, silakan anak-anak keluarkan kertas folio satu lembar dan alat tulis saja. Selain itu, dilarang ada barang lain diatas meja”. Serempak sekelas menjawab, “baik bu.” Soal pun dibagikan. Kami segera mengerjakan soal-soal yang ada. Beberapa menit kemudian, aku melihat teman-teman ku mulai tengak-tengok ke kanan ke kiri. Ada yang dorong-dorong kursi teman depannya, ada yang melempar kertas, pinjam penghapus untuk memberikan contekan, dan tindakan-tindakan lainnya. Aneh nya, guru ku tidak menyadari pergerakan teman-teman ku. Mery, yang duduk dibelakang ku persis, mendorong kursi ku untuk menanyakan jawaban ku. Namun, tak ku tanggapi. Merry pun emosi dan mendorong kursi ku dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang keras. Seketika itu juga seisi kelas ku menatapku dan tentu guru ku segera mendatangi ku. Aku menjelaskan apa yang terjadi, lalu guru ku menegur si Merry. Merry memang terkenal anak nakal dan semau nya sendiri. Dari kejadian itu, guru ku memperingati seluruh teman-teman ku untuk tidak mencontek ataupun membuat gaduh. “Lalu untuk Merry,” kata guru ku, “kalo kamu mengulangi perbuatan itu lagi, saya tidak akan segan-segan mengeluarkan mu dari kelas selama ulangan.” Merry yang tidak merasa bersalah itu terlihat kesal lalu menatap ku dengan sinis.

Satu jam telah berlalu, ulangan kami sudah selesai. Aku merasa lega karena aku cukup bisa mengerjakan soal-soal nya dan aku akan mengetahui hasil nya minggu depan. Bel istirahat pun berbunyi. Teman-teman kelasku bergegas keluar untuk membeli makanan di kantin. Aku juga membeli mie ayam kesukaan ku. Saat mengantre, aku mendengar ada orang yang menyebut-nyebut nama ku, seperti nya mereka sedang membicarakan ku. Mereka mengata-ngatai ku dengan kata-kata kotor, bahkan berkata bahwa aku sok pintar, pantas tidak memiliki teman karena terlalu kaku terhadap aturan, tidak bisa diajak bekerja sama, tidak bisa berbaur. Aku cukup terkejut mereka membicarakan ku dengan kata-kata seperti itu, apa salah ku? segera aku bergegas menghampiri mereka. “Maksud kalian apa ya?” kata ku. lalu mereka terkejut dan mereka langsung pergi begitu saja. Ternyata mereka adalah teman sekelas ku dan salah satu nya Merry. Aku benar-benar bingung, mengapa mereka sebegitunya membenci ku, mengapa teman-teman tidak menyukai ku hanya karena aku tidak bisa diajak bekerja sama dengan memberikan contekan?. Namun aku mencoba untuk tenang, berusaha untuk sabar sekalipun itu benar-benar membuatku sakit hati, marah, dan sedih.

Seminggu telah berlalu dan hasil ulangan harian matematika ku pun dibagikan, jantungku berdegub kencang, nama kami dipanggil satu persatu, teman-temanku banyak yang mendapatkan skor bagus; 90, 95, 88, 89. Lalu giliran nama ku yang dipanggil, nilai ku dikatakan cukup baik karena sudah melampaui KKM, aku mendapat nilai 85. Tetapi, sayangnya aku kurang bersyukur kepada Tuhan karena aku membanding-bandingkan nilai ku dengan mereka yang lebih baik dari ku. Sekalipun aku tahu bahwa hasil mereka adalah hasil dari mencontek. Bahkan parahnya lagi, aku kecewa dengan Tuhan karena nilai ku hanya 85, sehingga aku menduduki peringkat kedua dari terakhir setelah nilai Merry yang skor nilai nya 82. Aku menyalah-nyalahkan Tuhan, aku yang sudah berjuang sekeras yang ku bisa, sudah belajar sampai subuh, sampai capek sendiri karena aku juga mengikuti ekskul tetapi tidak mendapatkan hasil lebih baik dari mereka . Aku membanding-bandingkan ku dengan temanku yang lain, “kenapa dunia tidak adil, mereka dengan seenaknya mencontek tanpa merasakan lelahnya belajar tetapi bisa mendapat hasil nilai yang bagus, bahkan dikatakan hampir sempurna. Mereka dengan seenaknya mendapatkan hasil yang instan begitu.” Belum lagi karena aku memegang prinsip untuk tidak mau untuk mencontek, sehingga teman-teman ku tidak mau berteman dengan ku dan menjauhi ku. Pernah terlintas di dalam pikiran ku untuk bergabung dengan mereka saja, seperti nya menyenangkan dan nyaman karena aku pasti akan mendapatkan teman banyak dan juga bisa mendapatkan nilai bagus tanpa repot-repot belajar.

Sepulang dari sekolah dan sampai dirumah, aku memberitahu hasil ulangan ku kepada orangtua ku, mereka mengapresiasi ku karena aku mendapatkan nilai yang cukup baik. Namun, raut wajahku tidak ceria. Ayahku ku yang menyadari hal itu langsung bertanya kepada ku, “ada apa? Apa ada kejadian yang membuat mu tidak nyaman disekolah?” Lalu aku mengungkapkan perasaan ku dan kejadian-kejadian saat aku ulangan kemarin kepada kedua orangtua ku, aku menangis. Ibu ku yang tadi nya sedang sibuk membersihkan meja makan untuk menyiapkan makan malam kami segera bergegas memeluk ku dan menenangkan ku. Ayahku memberi respond hanya dengan anggukan kepala. Aku yang melihat respond ayah ku itu membuatku sangat marah. “Ayah ini bagaimana sih! Seolah-olah ayah setuju dengan apa yang mereka lakukan, mereka itu dengan seenaknya mencontek dan mendapatkan nilai bagus, Yah. Sedangkan aku yang sudah berjuang keras sampai belajar subuh, bahkan dibully dan dijauhi teman-teman tidak mendapatkan hasil yang sepadan !” teriak ku. “Apa aku harus sama seperti mereka supaya aku mendapatkan nilai bagus, apa aku harus sama seperti mereka supaya aku juga mendapatkan teman?” lanjut ku sambil terisak. Ayahku dengan tenang memberi penjelasan, “Ayah mengerti dan paham sekali terhadap apa yang kamu rasakan, karena ayah pun dulu pernah mengalami yang kamu alami. Tetapi apakah kamu tahu mengapa Tuhan mengizinkan kamu mendapatkan peristiwa itu? bukankah kamu sudah tahu bahwa nilai dan teman itu bisa didapatkan dengan cara yang lain dan tidak seperti itu? Percayalah kepada ayah, suatu saat nanti, semua hal yang kamu tanyakan, hal yang belum kamu ketahu saat ini akan dijawab Dia tepat pada waktu-Nya. Dan hal itu nantinya akan membuat mu semakin bersyukur.  Kamu harus benar-benar memegang prinsip mu, itu lah yang berkenan bagi-Nya, yakinlah Dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan mempermalukan anak-anakNya. Dan satu hal lagi, nilai ulangan atau nilai rapor itu tidak menentukan nasib masa depan kita, yang menentukan adalah Tuhan sendiri, yang terpenting kita sudah berjuang dan berusaha sebisa kita. Sama seperti mu, kamu sudah mengambil bagian mu untuk belajar. Sisanya minta kepada Tuhan, serahkan kepada Dia. Itu sudah cukup. Mungkin teman-teman mu sekarang mendapatkan nilai bagus karena mencontek, tetapi mereka tidak mendapatkan karakter pejuang seperti mu yang sudah berjuang belajar. Mereka telah melewatkan kesempatan itu.“ setelah penjelasan dari ayahku itu, aku mulai terdiam dan merenungkannya, mungkin benar bahwa Tuhan belum beri tahu aku sekarang, pasti ada hal yang mau Tuhan ajarkan kepada ku, tinggal apakah aku mau bersabar atau tidak.  Aku mengangguk mengerti dan memeluk ayahku, lalu kami bersama-sama berdoa dan hati ku merasa tenang dan damai.

Aku bersyukur memiliki mereka, mereka bukanlah tipikal pribadi yang apa-apa nya segera melapor kepada guru atau kepala sekolah, mereka tidak agresif untuk merespond kejadian buruk ku di sekolah, tetapi mereka mengajarkan ku untuk melihat dari perspektif lain, hal apa yang dapat ku pelajari dari kejadian itu. Karena segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Mereka lah yang membuatku selama ini masih kuat berjuang di sekolah, aku hanya butuh mereka untuk mendengarkan ku, menasihati ku, dan menyemangati ku. Aku juga tidak mau merepotkan kedua orang tua ku untuk memindahkan ku ke sekolah lain karena pasti biaya nya sangat mahal. Apalagi sudah sangat tanggung, karena aku sudah duduk di kelas dua belas. Aku juga bersyukur memiliki keluarga yang menyupport ku sekalipun aku jarang sekali ‘hadir’ yang benar-benar hadir di rumah karena kesibukan ku di sekolah.

Beberapa bulan setelah aku berjuang keras untuk melalui segala ujian kelulusan ku di SMA, aku bersyukur aku bisa mendapat ijazah SMA dan nilai nya pun memuaskan. Aku telah lulus, aku senang sekali karena aku akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah, aku akan menjadi mahasiswa. Dan hal yang paling ku syukuri adalah aku tidak akan lagi mengalami kejadian-kejadian yang memilukan di SMA. Kedua orangtua ku senang dan bersyukur karena guru-guru ku mengatakan bahwa aku murid teladan di sekolahnya, murid yang tertib, dan taat terhadap aturan.

Sebulan berlalu, setelah aku merayakan kelulusan ku, aku mulai mendaftar ke universitas yang ku impikan. Aku mulai menghadapi berbagai macam tes, dari tes logika, tes pengetahuan akademik, tes kesehatan, sampai tes wawancara untuk menyeleksi ku masuk di universitas impianku. Semua ku lalui dengan penuh perjuangan, aku belajar berminggu-minggu dari pagi sampai larut malam. Bahkan orangtua ku mendukungku dengan memfasilitasi ku untuk les privat. Hingga saat waktu nya pengumuman, aku begitu yakin diterima karena aku sudah banyak berjuang dan pada saat ujian pun aku merasa bisa mengerjakannya dengan sangat baik. Link pengumuman dibagikan dari pihak panitia dan aku segera membuka link itu bersama orang tua ku. Aku mengisi id dan password ujian ku. Ketika aku klik tombol ‘oke’, tiba-tiba muncul background warna merah dengan tulisan yang memberi keterangan bahwa aku belum bisa diterima di kampus yang aku impikan. Kami semua benar-benar terkejut, aku diam sejenak dan seketika air mata ku mulai menetes ke pipi ku. Ya, aku menangis. Orangtua ku segera memeluk ku, berusaha menghiburku. “Menangis lah jika kamu ingin menangis, kami ada disini untuk mu.” itu kata-kata ayahku ketika aku masih menahan tangisan ku. Dan duarr, aku menangis keras, tersendu-sendu. Ibu ku berkata, “tidak apa-apa, menangis lah sampai kamu merasa lega.”

Satu jam telah berlalu dengan diisi tangisan ku, tanpa ada satu kata pun ku lontarkan kepada orangtua ku, yang ku lakukan hanyalah menangis sambil meringkih memeluk orangtua ku. Ibuku yang sambil memeluk ku memejamkan mata seperti mendoakan ku, berharap keajaiban muncul saat itu juga. Disitu aku merasakan bahwa betapa berharga nya keluarga ku yang mau tetap setia ada untukku, terlebih ayahku yang tentu sudah bersusah payah bekerja supaya aku bisa terfasilitasi belajar untuk ujian ku. Namun, dia tidak protes dan tidak marah. Sungguh beruntung aku memiliki teladan yang nyata seperti ayahku.

Lalu ayahku berkata kepada ku, “apa yang kamu rasakan?”, aku menjawab “tentu aku marah, Ayah. Aku sedih, aku bingung apa yang harus ku lakukan setelah ini. Sedangkan pendaftaran universitas lain sudah ditutup. Padahal aku sudah berusaha, sudah belajar semaksimal yang ku bisa, tetapi mengapa aku tidak diterima?” Ayahku berkata, “baiklah, tidak apa-apa marah, tidak apa-apa sedih. Istirahatlah malam ini, masuklah ke dalam kamar dan berdoa kepada Tuhan, ceritakan semua kekesalan mu dan amarah mu kepada-Nya, tidak mengapa, Dia adalah Pribadi yang maha pendengar sehingga Dia sanggup mendengar seluruh keluhan mu, tidak seperti kami yang adalah manusia terbatas. Minta ampunlah juga kepada Dia karena kamu sempat kecewa, marah, dan sedih. Dia tidak ingin melihat mu berlama-lama untuk bersedih. Bertanyalah kepada-Nya, apa yang Dia inginkan didalam hidupmu sehingga kamu diizinkan sampai pada titik ini. Ayah dan ibu tidak menuntut mu harus berkuliah atau bagaimana, yang ayah dan ibu harapkan adalah kamu memahami apa yang ingin Tuhan lakukan didalam hidupmu.” Setelah mendengar hal itu, aku langsung menuju ke kamar ku dan melakukan apa yang ayah ku katakan meskipun aku sempat merasa putus harapan.

Beberapa hari kemudian, aku mulai membereskan isi kamar ku. Aku ingin membuang semua buku-buku ujian ku. Saat aku mengambil buku-buku SMA ku, aku melihat sebuah kertas ulangan matematika ku dulu, disitu ada coretan tinta merah guru ku dengan bertuliskan angka 85. Aku jadi teringat betapa aku berjuang sekali untuk ulangan matematika ini karena aku sudah sangat lelah untuk belajar. Apalagi saat itu aku baru pulang dari ekstrakurikuler. Tiba-tiba perasaan ku terarah pada peristiwa pengumuman hasil ujian universitas ku. Ternyata kejadiannya hampir mirip dengan kejadian ku saat menerima kertas hasil ulangan ini. Aku juga teringat kembali ketika aku mendapatkan ijazah SMA ku yang terdapat tulisan “LULUS” disitu.

Dulu aku pernah kecewa karena mendapatkan hasil ulangan yang tidak membanggakan, peristiwa ini sama seperti pada kejadian hasil pengumuman penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi yang ku daftar. Padahal aku sudah berjuang keras untuk belajar. Tetapi pada akhirnya, di SMA, aku boleh lulus dan mendapatkan hasil ijazah yang baik. Disitu aku mulai yakin, suatu saat nanti pasti akan ada waktu nya aku ‘lulus’ di perguruan tinggi yang ku harapkan. Disitu aku terharu karena perkataan ayah ku benar, semua hal tidak ada yang kebetulan, pasti ada maksud tertentu. Benar, bahwa Tuhan pasti akan memberitahu maksud Dia sesuai pada waktu-Nya, dan aku mulai memahami nya dikit demi sedikit. Dia memberi ku kesempatan untuk mengalami kekecewaaan saat aku menerima kertas ulangan matematika supaya aku bisa dikuatkan pada saat peristiwa pengumuman ku kemarin. Aku sadar ternyata perjuangan ku belum selesai.

Dua bulan telah berlalu, tahun ini aku belum berkuliah, tetapi aku mulai mencari informasi-informasi seputar beasiswa kuliah baik didalam maupun diluar negeri. Aku juga mengisi kegiatan ku dengan banyak membaca, menulis blog, mengerjakan soal-soal latihan untuk mempersiapkan ku seleksi masuk ke perguruan tinggi di tahun depan. Aku banyak menulis kisah-kisah inspiratif di blog ku. Banyak orang yang menyukai tulisan ku, mereka memberi komentar bahwa cerita-cerita yang ku tulis membuat mereka semakin bersemangat dalam menjalani hidup. Disitu aku bersyukur karena aku juga bisa membagikan hal-hal positif kepada banyak orang.

Tiba-tiba saat aku sedang membuka sosial media, aku melihat pesan masuk dari salah satu teman SMA ku. Karin, nama nya. Dia menghubungi sosial media ku karena dia termotivasi setelah melihat cerita ku di blog yang salah satu nya menceritakan pengalaman hidup ku dan kegiatan-kegiatan ku selama aku mempersiapkan ujian di tahun depan. Dia memberi ku pesan bahwa dia juga sama seperti ku yang sedang mempersiapkan ujian tahun depan. Kami banyak mengobrol disitu hingga kami bertukar nomor ponsel.

Saat kami mulai membicarakan sekolah kami, Karin berkata kepada ku bahwa teman kelas ku, Merry, sudah diterima di perguruan tinggi swasta yang terkenal sangat mahal. Akan tetapi, sayangnya, dia tidak menyelesaikan kuliah nya, ya, dia berhenti berkuliah pada semester kedua nya. Karena dia merasa tertekan terhadap tugas-tugas yang ada, tidak betah dengan sistem kuliahnya yang sangat ketat, dan hal yang lebih fatal lagi dia keluar karena tidak cocok dengan jurusannya. Hal itu membuat ku terkejut, sungguh sayang kuliahnya tidak dilanjutkan sedangkan disini aku benar-benar berjuang untuk mendapatkan perguruan tinggi.

Namun, aku jadi lebih bersyukur ketika mengingat bahwa tahun ini aku belum berkuliah. Bisa saja aku sama seperti Merry yang kurang cocok dengan pilihan jurusan ku sehingga aku tidak dapat menyelesaikan kuliahku. Lebih baik mundur satu tahun tetapi benar-benar bisa memikirkan secara matang untuk masa depan. Di sisi lain aku juga bersyukur, ternyata proses perjuangan ku di SMA dapat mempersiapkan ku di dunia kuliah nanti, tugas-tugas akan menjadi hal biasa bagi ku karena di SMA aku selalu mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Aku juga mau berjuang untuk berproses dan tidak mau menerima hasil apapun secara instan.

Setahun telah berlalu. Selama itu, aku dan Karin bersama-sama berjuang untuk ujian; kami belajar bersama dan bersenang-senang bersama. Kami juga bersama-sama melalui ujian-ujian untuk masuk ke perguruan tinggi yang kami inginkan. Aku juga mendaftar beberapa beasiswa. Sampai pada akhirnya pengumuman ujian kami tiba. Kami bersama-sama membuka pengumuan itu, disitu aku dan Karin sama-sama diterima di perguruan tinggi impian kami. Dan aku juga mendapatkan e-mail bahwa aku mendapatkan beasiswa yang dapat membantu ku dalam membiayai kuliah nanti. Kami benar-benar senang sampai orangtua kami pun menangis terharu. Ayah ku berkata kepada ku, “Lihat, apa yang sudah Tuhan lakukan didalam mu, percaya lah kepada-Nya, maka Dia akan membukakan pintu bagi mu”

Setelah kejadian itu, aku semakin memahami apa maksud Tuhan didalam hidupku. Ternyata Tuhan punya rencana yang lebih indah daripada apa yang ku rencanakan. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi pribadi yang seperti sekarang jika tidak melalui proses-proses sebelumnya. Aku yang bisa memotivasi banyak orang, bahkan teman sekolah ku sendiri, hingga dia bisa menjadi salah satu pribadi yang penting dalam hidupku, yang mau menjadi teman yang benar-benar ‘teman’. Jika tahun lalu aku diterima di perguruan tinggi yang ku inginkan, mungkin aku tidak mendapatkan kesempatan beasiswa ku sekarang ini. Hal ini membuat ku benar-benar bersyukur. Dan satu hal yang ku pelajari dan akan selalu ku pegang dalam hidupku bahwa setiap usaha pasti memiliki proses yang tentu nya tidak cepat. Kadang kala kita harus dibongkar, dihancurkan terlebih dahulu hingga dapat dibentuk menjadi bangunan yang lebih kokoh,indah, baru, dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Aku jadi tidak sabar bagaimana kuliah ku nanti nya, pasti akan banyak tantangan berdatangan kepada ku. Namun aku tidak akan takut, karena dulu aku sudah melalui banyak rintangan dan Tuhanlah yang menolong ku bahkan memberi ku hal-hal yang luar biasa, dan aku yakin pasti Ia akan melakukan hal yang sama untuk masa depan ku. Aku sudah diperlengkapi dan dipersiapkan oleh Dia

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer